Iman kepada kitab-kitab Allah Swt. adalah salah satu pondasi utama keimanan seorang Muslim, menempati posisi Rukun Iman yang ketiga. Meyakini keberadaan kitab suci bukan hanya sekadar mengetahui namanya, tetapi memahami bahwa kitab tersebut adalah petunjuk langsung dari Sang Pencipta untuk menuntun kehidupan manusia menuju kebaikan dan keselamatan dunia serta akhirat. Bab ini berfokus pada kedalaman keyakinan, kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan implementasi toleransi dalam kehidupan sosial.
Bab 2: Meyakini Kitab-Kitab Allah: Menjadi Generasi Pecinta Al-Qur’an yang Toleran
I. Pengertian Iman Kepada Kitab Allah
Iman secara bahasa berarti percaya atau yakin. Iman kepada kitab-kitab Allah Swt. berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan wahyu atau firman-Nya kepada para nabi dan rasul melalui perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia.
A. Dimensi Keimanan
Keyakinan terhadap kitab Allah harus mencakup tiga dimensi utama yang saling berkaitan:
- Tashdiq bil Qalbi (Membenarkan dalam Hati): Yaitu meyakini tanpa keraguan sedikit pun bahwa semua kitab suci berasal dari Allah, mengandung kebenaran mutlak, dan tidak ada campur tangan atau kesalahan manusia di dalamnya saat diturunkan.
- Iqrar bil Lisan (Mengucapkan dengan Lisan): Menyatakan dan mengakui bahwa kitab-kitab tersebut adalah benar adanya dan merupakan pedoman hidup.
- Amal bil Arkan (Membuktikan dengan Perbuatan): Melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan yang terkandung di dalam kitab suci tersebut, terutama bagi umat Islam yang wajib mengamalkan syariat Al-Qur’an.
Hukum Iman: Iman kepada kitab-kitab Allah hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu Muslim). Apabila seseorang mengingkari keberadaan salah satu kitab suci yang diakui dalam Islam, maka gugurlah keimanannya.
Ilustrasi sedang tidak tersedia
II. Nama Kitab-Kitab Allah dan Perbedaannya
Allah Swt. telah menurunkan banyak suhuf (lembaran wahyu) dan empat kitab utama kepada para rasul-Nya dalam periode sejarah yang berbeda.
A. Empat Kitab Utama yang Wajib Diimani
Kita wajib mengimani keberadaan semua kitab suci, namun hanya wajib mengamalkan syariat yang dibawa oleh kitab terakhir, yaitu Al-Qur’an.
| Nama Kitab | Nabi Penerima | Bahasa Asli | Isi Pokok Ajaran |
|---|---|---|---|
| 1. Taurat | Nabi Musa a.s. | Ibrani (Hebrew) | Mengandung sepuluh perintah (ten commandments) yang menjadi dasar hukum bagi Bani Israil. Diturunkan di Bukit Sinai. |
| 2. Zabur | Nabi Daud a.s. | Qibti (Coptic) | Berisi puji-pujian, doa, zikir, nasehat, dan hikmah. Zabur tidak mengandung syariat baru melainkan menguatkan syariat Taurat. |
| 3. Injil | Nabi Isa a.s. | Suryani (Aramaic) | Berisi ajaran untuk hidup sederhana, penuh kasih sayang, menjauhi sifat tamak, dan membenarkan ajaran Taurat. Juga berisi kabar gembira (Injil) akan kedatangan nabi terakhir. |
| 4. Al-Qur’an | Nabi Muhammad Saw. | Arab | Kitab penyempurna dan terlengkap. Mencakup akidah, syariah, akhlak, hukum, sejarah, serta ilmu pengetahuan. Merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. |
B. Posisi Al-Qur’an sebagai Kitab Penutup (Khatamul Kutub)
Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan berbeda dari tiga kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil—yang saat ini dikenal sebagai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam agama Kristen dan Yahudi):
- Penyempurna (Muhayminan): Al-Qur’an membenarkan, mengoreksi, dan menyempurnakan ajaran-ajaran dalam kitab-kitab terdahulu.
- Universal dan Abadi: Ajaran Al-Qur’an berlaku untuk seluruh umat manusia, di segala waktu dan tempat, hingga hari kiamat.
- Dijamin Keasliannya: Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an dari perubahan, penambahan, atau pengurangan oleh tangan manusia (Q.S. Al-Hijr: 9). Sedangkan kitab-kitab terdahulu diyakini umat Islam telah mengalami perubahan dan penafsiran seiring waktu (tahrif).
III. Menjadi Generasi Pecinta Al-Qur’an
Meyakini kitab Allah, khususnya Al-Qur’an, harus diwujudkan dalam bentuk kecintaan dan pengamalan nyata. Kecintaan ini merupakan jembatan bagi siswa SMP agar menjadikan Al-Qur’an sebagai way of life.
A. Langkah-Langkah Mewujudkan Kecintaan
- Tilawah (Membaca): Rutin membaca Al-Qur’an setiap hari dengan tartil (benar dan sesuai tajwid). Ini adalah langkah awal untuk menjalin hubungan batin dengan firman Allah.
- Tadabbur (Memahami dan Merenungkan): Tidak hanya membaca, tetapi berusaha memahami arti dan tafsir ayat-ayat yang dibaca. Hal ini akan melahirkan hikmah dan motivasi dalam diri.
- Tahfidz (Menghafal): Berusaha menghafal sebagian atau seluruh Al-Qur’an. Penghafalan akan meningkatkan konsentrasi dan menjaga memori Al-Qur’an di hati.
- Ta’lim wa Ta’allum (Mengajar dan Belajar): Mengajarkan atau membagikan ilmu Al-Qur’an yang kita miliki kepada orang lain, termasuk teman sebaya, sesuai kemampuan.
Manfaat Utama: Al-Qur’an berfungsi sebagai Asy-Syifa (obat penenang hati) dan Al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil).

B. Implementasi Akhlak Qur’ani
Generasi pecinta Al-Qur’an adalah mereka yang menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai teladan, sebab akhlak beliau adalah Al-Qur’an itu sendiri. Implementasi praktisnya meliputi:
- Jujur dan Amanah: Menerapkan kejujuran dalam ucapan dan tindakan, sesuai perintah Allah.
- Adil: Bersikap netral dan tidak memihak, bahkan kepada diri sendiri atau orang terdekat.
- Kontrol Diri (Istiqamah): Menjaga konsistensi dalam ibadah dan menjauhi perbuatan tercela, seperti bullying atau tindakan merugikan orang lain.
IV. Hubungan dengan Umat yang Beriman kepada Kitab Terdahulu
Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pemahaman mengenai kitab Allah harus menumbuhkan sikap toleransi (tasamuh) yang kuat, terutama dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain (disebut juga Ahlul Kitab dalam konteks Islam klasik).
A. Prinsip Toleransi yang Tepat
Toleransi yang diajarkan Islam bukanlah mencampuradukkan keyakinan (sinkretisme), melainkan menghargai perbedaan dalam ranah sosial (muamalah).
- Pengakuan Iman: Kita wajib mengakui bahwa umat Yahudi dan Nasrani (Kristen) memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Allah (Taurat dan Injil) kepada nabi mereka. Kita wajib menghormati keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai wahyu Allah di masa lalu.
- Batas Akidah (Pemisahan Keyakinan): Dalam urusan ketuhanan dan ibadah, Islam memiliki batas yang tegas. Kita tidak boleh mengikuti atau mencampurkan ritual ibadah mereka, sebagaimana firman Allah: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Q.S. Al-Kafirun: 6).
- Toleransi Sosial (Muamalah): Kita harus menjalin hubungan baik, saling tolong-menolong, bersikap ramah, dan menjaga kerukunan dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara, selama tidak menyangkut akidah.
B. Mewujudkan Masyarakat Toleran
Sebagai generasi Muslim yang meyakini Al-Qur’an, kita harus menjadi duta perdamaian yang didasarkan pada ajaran suci.
- Menghindari Fanatisme Buta: Kita meyakini kebenaran Al-Qur’an secara mutlak, tetapi keyakinan ini tidak boleh mendorong kita untuk merendahkan atau memusuhi pemeluk agama lain.
- Dialog dan Saling Pengertian: Bersedia membuka diri untuk memahami pandangan orang lain tanpa harus menggadaikan akidah sendiri.
- Kolaborasi Kebaikan: Bekerja sama dengan siapa pun dalam hal-hal yang membawa manfaat umum, seperti menjaga kebersihan lingkungan, melawan kemiskinan, atau kampanye anti-narkoba.

C. Relevansi dalam Kehidupan SMP
Implementasi keyakinan kepada Kitab Allah dalam kehidupan sehari-hari siswa SMP adalah:
- Disiplin: Melaksanakan ibadah (salat, puasa) yang merupakan perintah dasar kitab suci dengan tepat waktu.
- Berbicara Santun: Menjaga lisan dari perkataan kotor, ghibah (gosip), atau fitnah, sesuai petunjuk Al-Qur’an.
- Menghormati Guru dan Orang Tua: Melaksanakan bakti kepada orang tua dan guru sebagai kewajiban yang berulang kali ditekankan dalam wahyu Allah.
Dengan meyakini kitab-kitab Allah, khususnya mencintai Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran toleransi, kita telah menjadi bagian dari generasi yang beriman teguh, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi harmoni bangsa.
