Rangkuman materi PAI Kelas 8 Kurikulum Merdeka PAI Kelas 8 Bab 5 Meneladani Produktivitas dalam Berkaryadan Semangat Literasi Masa Keemasan Islam EraDaulah Abbasiyah (750-1258 M)
Masa Keemasan Islam: Spirit Produktivitas dan Intelektualitas Daulah Abbasiyah (750–1258 M)
Masa pemerintahan Daulah Abbasiyah sering disebut sebagai Masa Keemasan (The Islamic Golden Age). Periode ini tidak hanya menandai kejayaan politik, tetapi juga revolusi besar dalam ilmu pengetahuan, seni, dan peradaban. Meneladani masa ini berarti memahami bagaimana semangat produktivitas, literasi, dan keharmonisan antaragama mampu membangun peradaban yang unggul.
1. Mengenal Daulah Abbasiyah (750-1258 M)
Daulah Abbasiyah berkuasa selama lebih dari lima abad dan merupakan salah satu kekhalifahan terlama dalam sejarah Islam. Pendirian daulah ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem pemerintahan Daulah Umayyah (661-750 M) yang dianggap memprioritaskan etnis Arab (Arab Sentris).
A. Latar Belakang dan Pendirian
Pendirian Daulah Abbasiyah dipimpin oleh keturunan paman Nabi Muhammad ﷺ, Abbas bin Abdul Muthalib.
Tiga Pilar Utama Revolusi Abbasiyah:
- Abu al-Abbas as-Saffah (Khalifah Pertama): Mendirikan daulah dan melakukan konsolidasi awal.
- Abu Ja’far al-Mansur (Khalifah Kedua): Peletak fondasi administrasi dan politik. Ia memindahkan ibu kota dari Kufah ke lokasi baru yang lebih strategis, yaitu Baghdad.
- Dukungan Non-Arab: Daulah ini sangat didukung oleh masyarakat non-Arab, terutama Persia, yang merasa tersisih pada masa Umayyah. Ini membuka pintu bagi integrasi budaya dan ilmu pengetahuan.
B. Periodisasi Kekuasaan dan Puncak Kejayaan
Daulah Abbasiyah secara umum dibagi menjadi lima periode. Puncak kejayaannya terletak pada periode pertama, ketika kekuasaan Khalifah masih sangat kuat dan didukung oleh stabilitas ekonomi.
Tokoh Khalifah Intelektual:
- Harun ar-Rasyid (786–809 M): Dikenal sebagai Khalifah yang adil dan dermawan. Pada masanya, Baghdad menjadi pusat perdagangan internasional dan ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat.
- Al-Ma’mun (813–833 M): Khalifah yang paling bersemangat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia secara resmi mendirikan dan mengembangkan Bayt al-Ḥikmah (Rumah Kebijaksanaan), menjadikannya institusi akademik terbesar di dunia saat itu.

2. Keindahan Kota Baghdad dan Daya Tarik Bayt al-Ḥikmah
Daulah Abbasiyah mencapai kemasyhuran luar biasa karena kemampuannya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ilmu. Pusat dari kemasyhuran ini adalah ibu kota Baghdad dan institusi unggulannya, Bayt al-Ḥikmah.
A. Baghdad: Jantung Peradaban Dunia
Kota Baghdad, yang didirikan oleh Khalifah Al-Mansur pada tahun 762 M, dijuluki Madinat as-Salam (Kota Perdamaian).
Karakteristik Unik Kota Baghdad:
- Desain Melingkar (Circular City): Kota ini dirancang dengan tata ruang melingkar yang sempurna, dengan istana dan masjid agung berada tepat di tengah, melambangkan kekuasaan sentral.
- Lokasi Strategis: Terletak di antara dua sungai besar, Tigris dan Eufrat, menjadikannya pusat irigasi, pertanian, dan jalur perdagangan rempah-rempah serta sutra dari Timur ke Barat.
- Kesejahteraan: Dilaporkan bahwa Baghdad memiliki ratusan ribu penduduk, sistem air yang canggih, rumah sakit (Bimaristan), dan pasar buku (Suq al-Warraqin) yang sangat ramai, menunjukkan tingginya tingkat literasi masyarakat.
B. Bayt al-Ḥikmah: Pusat Gerakan Penerjemahan
Bayt al-Ḥikmah adalah akademi ilmu pengetahuan, perpustakaan, dan pusat penerjemahan terbesar pada abad ke-9 M. Keberadaan institusi ini adalah wujud konkret dukungan Daulah Abbasiyah terhadap akal dan ilmu.
Fungsi Utama Bayt al-Ḥikmah:
- Penerjemahan (Translation): Tugas utamanya adalah menerjemahkan teks-teks kuno dari peradaban Yunani (Aristoteles, Plato, Galen), Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Teks-teks ini meliputi filsafat, matematika, astronomi, dan kedokteran.
- Observatorium dan Penelitian: Selain buku, Bayt al-Ḥikmah dilengkapi dengan instrumen-instrumen canggih untuk penelitian astronomi, seperti yang didirikan di Shammasiyah.
- Perkembangan Ilmu Baru: Para sarjana di Bayt al-Ḥikmah tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga mengoreksi, mengkritik, dan mengembangkan teori-teori baru.

Kontribusi Intelektual Penting:
| Bidang Ilmu | Tokoh Utama | Kontribusi Signifikan |
|---|---|---|
| Matematika | Al-Khawarizmi | Pencipta konsep Aljabar (algebra) dan pengenal angka nol ke dunia Barat. |
| Kedokteran | Ibnu Sina (Avicenna) | Penulis Al-Qanun fi at-Tibb (Canon of Medicine), menjadi buku standar medis selama ratusan tahun. |
| Kimia | Jabir bin Hayyan | Dijuluki “Bapak Kimia Arab” karena karyanya dalam eksperimen laboratorium. |
| Astronomi | Al-Battani | Karya-karyanya tentang trigonometri dan perhitungan orbit membantu Copernicus berabad-abad kemudian. |
3. Meneladani Produktivitas, Literasi, dan Keharmonisan Intelektual
Warisan terbesar Daulah Abbasiyah bagi generasi sekarang, khususnya pelajar, adalah nilai-nilai yang mereka junjung tinggi: produktivitas dalam berkarya, semangat literasi yang tak terbatas, dan keharmonisan dalam perbedaan.
A. Meneladani Produktivitas dalam Berkarya
Produktivitas era Abbasiyah tidak hanya dilihat dari kuantitas karya yang diterjemahkan, tetapi juga dari kualitas karya orisinal yang dihasilkan. Para sarjana memiliki etos kerja yang tinggi, didorong oleh ihtiram al-‘ilm (penghormatan terhadap ilmu).
Prinsip Produktivitas Intelektual:
- Penguasaan Dasar: Para ulama dan ilmuwan harus menguasai bahasa Arab, Persia, dan setidaknya satu bahasa asing kuno (misalnya Yunani) untuk dapat menelaah sumber asli.
- Kultur Musyawarah: Ilmuwan bekerja dalam tim. Bayt al-Ḥikmah menjadi laboratorium sosial di mana ide diuji melalui debat dan diskusi yang intensif.
- Keterbukaan terhadap Kritik: Karya tulis sering kali dikoreksi dan disempurnakan oleh sejawat, menunjukkan kerendahan hati intelektual.
B. Semangat Literasi dan Penghargaan terhadap Buku
Literasi menjadi jantung peradaban Abbasiyah. Buku dianggap sebagai harta yang paling berharga.
- Harga Buku: Pada masa itu, harga untuk menyalin satu manuskrip bisa setara dengan gaji tahunan seorang tentara. Namun, Khalifah menyediakan dana besar untuk membiayai penyalinan dan pembelian buku.
- Perpustakaan Umum: Selain perpustakaan istana, muncul Khizanat al-Kutub (perpustakaan umum) yang tersebar di kota-kota besar. Ini menunjukkan akses literasi yang demokratis.
- Profesi Penulis dan Penyalin: Profesi Warraq (penyalin/penjual buku) menjadi profesi yang sangat terhormat dan diminati.
C. Keharmonisan Intelektual Antar Agama (Pluralisme)
Salah satu aspek paling menakjubkan dari Masa Keemasan Islam adalah inklusivitasnya. Penelitian dan penerjemahan tidak dibatasi oleh latar belakang agama atau etnis.
Wujud Keharmonisan Intelektual:
- Sarjana Non-Muslim: Banyak penerjemah terkemuka di Bayt al-Ḥikmah adalah penganut agama Kristen Nestorian, Yahudi, dan Zoroaster. Mereka dipekerjakan dan dihormati oleh Khalifah.
- Contoh: Hunayn ibn Ishaq (seorang Kristen) adalah kepala penerjemah Bayt al-Ḥikmah yang paling produktif. Ia menerjemahkan Galen dan Hipokrates, dan dibayar dengan emas seberat buku yang ia terjemahkan.
- Tujuan Bersama (Hikmah): Tujuan utama para sarjana adalah mencari al-hikmah (kebijaksanaan atau kebenaran universal), yang dianggap milik semua umat manusia.
- Toleransi Beragama: Dukungan ini menunjukkan bahwa Daulah Abbasiyah memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas agama, ras, atau keyakinan, dan bahwa keberagaman dapat menjadi sumber kekuatan intelektual.

Kesimpulan: Warisan Masa Keemasan
Masa Daulah Abbasiyah mengajarkan kepada kita bahwa peradaban besar dibangun di atas dasar ilmu yang aplikatif, bukan hanya teoritis. Semangat untuk terus belajar (literasi), menghasilkan karya nyata (produktivitas), dan menghargai perbedaan pandangan serta latar belakang (keharmonisan) adalah kunci kemajuan yang abadi. Kejayaan intelektual Abbasiyah adalah bukti bahwa iman dan akal dapat berjalan beriringan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

