Materi PAI Kelas 9 Bab 5 Mengapresiasi Peradaban Daulah Ismani

Peradaban Daulah Usmani (Ottoman Empire) merupakan salah satu kekhalifahan Islam terpanjang dan terkuat dalam sejarah, yang mampu bertahan selama lebih dari enam abad (sekitar 1299 M hingga 1922 M). Mempelajari peradaban ini bukan hanya mengagumi kejayaan masa lalu, tetapi juga mengambil hikmah tentang kepemimpinan, disiplin, dan integrasi antarbudaya.

Mengapresiasi Peradaban Daulah Ismani


A. Tafakkur (Perenungan)

Daulah Usmani dimulai sebagai suku kecil di Anatolia dan berkembang menjadi kekaisaran global yang menguasai tiga benua: Asia, Eropa, dan Afrika Utara.

Pertanyaan Tafakkur: Bagaimana sebuah suku kecil yang dipimpin oleh Osman I dapat membangun sistem kekuasaan yang begitu kuat dan bertahan, melintasi ratusan tahun, menghadapi tantangan internal dan eksternal yang masif, sebelum akhirnya runtuh? Perenungan ini mengajarkan kita tentang siklus peradaban: puncak kejayaan selalu membutuhkan fondasi moral dan administrasi yang kuat, dan kemunduran sering kali diawali dengan hilangnya disiplin dan semangat i’tikad (komitmen).

Kita harus merenungkan pentingnya visioneritas kepemimpinan dan ketaatan terhadap hukum sebagai pilar utama kejayaan suatu bangsa.


B. Titik Fokus (Aspek Kunci Pembelajaran)

Dalam mengapresiasi Daulah Usmani, fokus kita diarahkan pada tiga pilar utama yang menjadikan mereka peradaban dunia:

  1. Ekspansi dan Penaklukan: Keberhasilan mereka dalam menguasai wilayah strategis, terutama penaklukan Konstantinopel (Istanbul).
  2. Sistem Pemerintahan dan Hukum (Kanunname): Struktur birokrasi yang kompleks dan penerapan sistem hukum yang adil dan terorganisir.
  3. Kemajuan Seni dan Arsitektur: Warisan budaya berupa masjid, jembatan, dan istana megah yang menunjukkan perpaduan harmonis antara Timur dan Barat.

C. Ṭalabul Ilmi (Mencari Ilmu – Materi Inti)

1. Sejarah Awal dan Pendirian

Daulah Usmani didirikan sekitar tahun 1299 M oleh Osman I (atau Utsman Ghazi) di wilayah Anatolia, setelah runtuhnya Kesultanan Seljuk Rum. Osman I mewarisi semangat Ghazi (pejuang Islam) yang berani dan visioner, fokus pada perluasan wilayah di perbatasan Bizantium.

Pusat kekuasaan awal meliputi Bursa dan Edirne, sebelum akhirnya mencapai puncak ambisi, yaitu Konstantinopel.

2. Masa Keemasan: Sultan Mehmed II dan Suleiman I

Masa keemasan Usmani sering dikaitkan dengan dua sultan besar:

a. Sultan Mehmed II Al-Fatih (Sang Penakluk)

Pada tahun 1453 M, Sultan Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium. Penaklukan ini adalah titik balik sejarah dunia, menandai berakhirnya Abad Pertengahan.

  • Pentingnya Penaklukan: Konstantinopel diubah namanya menjadi Istanbul, yang menjadi pusat politik, budaya, dan spiritual Islam. Masjid-masjid didirikan, dan gereja utama, Hagia Sophia, diubah menjadi masjid, simbol dominasi dan toleransi budaya.
  • Keilmuan: Mehmed II dikenal sebagai sultan yang sangat mencintai ilmu pengetahuan dan sastra, mengumpulkan cendekiawan dari berbagai latar belakang.

b. Sultan Suleiman I Al-Kanuni (Sang Pemberi Hukum)

Suleiman I, yang dijuluki The Magnificent di Barat, memimpin dari tahun 1520 hingga 1566 M. Pada masanya, kekaisaran mencapai luas terbesar.

  • Pembaruan Hukum: Sumbangsih terbesar Suleiman adalah kodifikasi hukum yang dikenal sebagai Kanunname. Ini adalah seperangkat hukum sekuler yang berjalan berdampingan dengan Syariah (hukum Islam), memastikan keadilan dalam administrasi, pajak, dan tata kelola tanah bagi semua subjek, terlepas dari agama mereka.
  • Arsitektur: Masa Suleiman adalah masa keemasan arsitektur Usmani, dipimpin oleh arsitek agung Mimar Sinan.

3. Aspek Peradaban dan Inovasi

Daulah Usmani unggul dalam beberapa bidang kunci:

a. Militer: Korps Janissary (Yeniceri)

Daulah Usmani memiliki pasukan militer paling maju di masanya. Inti dari pasukan profesional mereka adalah Janissary (Yeniceri), yang berarti “Pasukan Baru.”

  • Sistem Devşirme: Prajurit Janissary awalnya direkrut melalui sistem Devşirme, di mana anak laki-laki Kristen dari Balkan diambil, dididik Islam, dilatih secara militer, dan dibesarkan untuk melayani sultan.
  • Disiplin Tinggi: Pasukan ini dikenal karena disiplin yang ekstrem, kesetiaan penuh kepada Sultan, dan menjadi salah satu unit pertama di dunia yang menggunakan senjata api secara terorganisir. Janissary adalah bukti meritokrasi; status sosial mereka didapatkan murni dari kemampuan dan loyalitas.

b. Arsitektur dan Seni

Arsitektur Usmani memadukan gaya Bizantium, Seljuk, dan Islam. Kubah besar dan menara tinggi menjadi ciri khas.

  • Mimar Sinan: Arsitek utama Daulah, yang merancang ratusan bangunan, termasuk Masjid Süleymaniye di Istanbul dan Masjid Selimiye di Edirne. Karyanya menunjukkan penguasaan teknik konstruksi yang memungkinkan pembuatan kubah yang sangat besar tanpa penopang internal.
  • Seni Islam: Seni kaligrafi, ubin Isnik yang indah (berwarna biru, merah, hijau), dan permadani yang rumit berkembang pesat.

c. Sistem Birokrasi dan Toleransi

Sultan adalah pemimpin tertinggi, yang juga memegang gelar Khalifah (pemimpin spiritual umat Islam). Kekuasaan sehari-hari dijalankan oleh Wazir Agung (Perdana Menteri) dan dewan Diwan.

Daulah Usmani menjalankan sistem Millet, yang memungkinkan komunitas agama minoritas (Yahudi, Ortodoks, Armenia) untuk mengatur urusan internal mereka sendiri (hukum keluarga, pendidikan, pajak) di bawah otoritas pemimpin agama masing-masing, selama mereka mengakui kekuasaan Sultan. Ini adalah contoh toleransi dan administrasi multikultural yang maju pada masanya.

4. Faktor Kemunduran

Setelah Suleiman I, kekaisaran perlahan mulai mengalami kemunduran karena:

  1. Kelemahan Sultan: Sultan-sultan berikutnya banyak yang kurang kompeten dan terlibat dalam urusan harem, bukan pemerintahan.
  2. Korupsi dan Pemberontakan Janissary: Pasukan Janissary yang awalnya menjadi kekuatan, berubah menjadi kekuatan politik yang korup dan sering melakukan kudeta.
  3. Kemajuan Eropa: Kekaisaran gagal mengikuti Revolusi Industri dan kemajuan militer Eropa, membuat Usmani tertinggal dalam teknologi.

D. Ikhtisar (Intisari Pelajaran)

Daulah Usmani mewariskan sistem pemerintahan yang terorganisir, inovasi militer (Janissary), dan warisan arsitektur yang tak tertandingi. Mereka berhasil menciptakan stabilitas politik dan ekonomi yang memungkinkan perkembangan budaya selama berabad-abad, menjembatani budaya Timur dan Barat. Keberhasilan mereka bertumpu pada disiplin, sistem hukum yang adil (Kanunname), dan kepemimpinan yang berwawasan luas.


E. Uswatun Hasanah (Teladan yang Baik)

Peradaban Usmani mengajarkan kepada kita beberapa teladan penting:

  1. Disiplin Diri dan Kolektif: Keberhasilan Janissary dan birokrasi Usmani menunjukkan bahwa kekuatan kolektif hanya bisa dicapai melalui disiplin individu yang ketat.
  2. Keadilan dalam Hukum: Sultan Suleiman Al-Kanuni mengajarkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada perluasan wilayah, tetapi pada kemampuan memastikan keadilan ditegakkan bagi semua rakyatnya, tanpa memandang latar belakang.
  3. Semangat Mencari Ilmu (Ṭalabul Ilmi): Para sultan Usmani secara aktif mendukung pembangunan perpustakaan, madrasah, dan mengundang ilmuwan, menunjukkan bahwa kekuasaan harus didukung oleh pengetahuan.

F. Pribadi Pelajar Berkarakter

Mempelajari Daulah Usmani membentuk pelajar yang berkarakter sebagai berikut:

  1. Visioner: Memiliki pandangan jauh ke depan (seperti Osman I yang melihat peluang membangun kekaisaran dari suku kecil) dan mampu merencanakan masa depan dengan matang.
  2. Bertanggung Jawab: Menyerap nilai tanggung jawab para wazir dan sultan yang harus mengelola wilayah seluas tiga benua.
  3. Toleran dan Berwawasan Global: Mampu menghargai keragaman budaya dan agama, sebagaimana Daulah Usmani mengelola sistem Millet untuk subjek non-Muslim. Pelajar harus mampu berinteraksi positif dalam masyarakat yang majemuk.
  4. Disiplin: Mencontoh kedisiplinan dan sistematisasi dalam kerja, belajar, dan beribadah, sebagai kunci utama mencapai kesuksesan jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Materi PAI Kelas 9 Bab 10 Mengapresiasi Peradaban pada Masa Syafawi dan India Mughal

Rangkuman materi PAI Kelas 9 Bab 10 Membahas tentang Mengapresiasi Peradaban pada Masa Sya…